5 Faktor yang Mendorong Lahirnya Nasionalisme Indonesia

5 Faktor yang Mendorong Lahirnya Nasionalisme Indonesia

Munculnya nasionalisme atau paham kebangsaan Indonesia dilatarbelakangi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor yang mendorong lahirnya nasionalisme (pergerakan kebangsaan) Indonesia, antara lain yaitu:


1)   Perluasan Pendidikan

Pada tahun 1901, pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan Politik Etis, yaitu; irigasi/pengairan, emigrasi/transmigrasi, dan edukasi/pendidikan. Tiga kebijakan ini sebenarnya bertujuan untuk memperbaiki kondisi masyarakat yang semakin terpuruk pada saat itu. Akan tetapi dalam pelaksanaannya kebijakan politik etis tetap lebih berpihak pada penjajah.

Dalam pelaksanaannya banyak terjadi penyelewengan dalam politik Etis, seperti misalnya:

a)    Irigasi yang hanya untuk kepentingan perkebunan Belanda saja.

b)    Emigrasi/transmigrasi hanya untuk mengirim orang-orang Jawa ke luar Jawa saja guna dijadikan buruh perkebunan dengan upah yang murah.

c)    Pendidikan hanya sampai tingkat rendah, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pegawai rendahan. Sementara pendidikan tinggi hanya ditujukan untuk orang Belanda dan sebagian anak pejabat saja.

Namun demikian, kebijakan politik Etis memiliki sedikit sisi positif bagi bangsa Indonesia saat itu. Segi positif yang paling dirasakan oleh bangsa Indonesia ialah pendidikan. Pada saat itu semakin banyak orang Indonesia berpendidikan modern, yang kemudian memelopori gerakan pendidikan, politik, dan sosial.

Pengaruh pendidikan inilah yang menjadi titik awal lahirnya para tokoh pemimpin pergerakan nasional Indonesia. Pendidikan adalah investasi peradaban. Melalui pendidikan akan tertanam pengetahuan dan kesadaran tentang nasionalisme bangsa Indonesia.

Secara bertahap, pada awal mulai masuk abad XX kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bagi rakyat Indonesia semakin besar. Hal ini dilatarbelakangi oleh pengaruh kebijakan baru pemerintah Hindia Belanda melalui Politik Etis. Melalui kebijakan Politik Etis ini dimungkinkan berdirinya sekolah-sekolah di berbagai daerah Indonesia.

Awal abad XX perkembangan pendidikan yang diselenggarakan swasta semakin banyak dan berkembang. Perkembangan pendidikan bukan hanya yang diselenggarakan oleh pemerintah saja, akan tetapi juga oleh berbagai organisasi sosial dan keagamaan.

Misionaris agama Kristen dan Katolik mendirikan berbagai sekolah di pusat-pusat penyebaran agama Kristen. Dan di beberapa kota berkembang pendidikan berdasarkan keagamaan seperti misalnya Muhammadiyah, Nahd latul Ulama, Persatuan Islam, dan sebagainya. Selain itu sekolah kebangsaan juga tumbuh seperti misalnya Taman Siswa dan sekolah-sekolah yang didirikan oleh organisasi pergerakan.

Singkat cerita, pendidikan sangat besar peranannya dalam menumbuh-kembangkan nasionalisme Indonesia. Pendidikan menyebabkan terjadinya transformasi ide dan pemikiran yang mendorong semangat pembaharuan masyarakat Indonesia. Dan pada masa sekarang kita harus senantiasa berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan.

 

2)   Kegagalan Perjuangan di Berbagai Daerah

Setelah berbagai kegagalan yang didapat bangsa Indonesia dalam perjuangannya, bangsa Indonesia akhirnya sadar berbagai penyebab kegagalan perjuangan kemerdekaan tersebut salah satunya adalah perlawanan yang bersifat kedaerahan.

Kita tentu masih ingat dengan beberapa perjuangan bangsa Indonesia di berbagai daerah. Bagaimana seandainya para tokoh seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Sultan Hasanuddin dan para tokoh lainnya bersatu mengusir penjajah? Tentu Belanda akan mudah ditaklukkan pada saat itu.

Memasuki abad XX, ciri khas perjuangan bangsa Indonesia berubah dari yang tadinya bersifat kedaerahan, menuju perjuangan yang sifatnya nasional. Pada saat itu bangsa Indonesia menemukan identitas kebangsaan sebagai pengikat perjuangan bersama. Semakin lama paham kebangsaan atau nasionalisme terus tumbuh dan menjelma menjadi sarana perjuangan yang sangat kuat bagi bangsa Indonesia. Dan corak perjuangan nasional bangsa Indonesia ditandai dengan momentum penting yang dikenal sampai sekarang, yaitu ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.


5 Faktor yang Mendorong Lahirnya Nasionalisme Indonesia

3)   Rasa Senasib Sepenanggungan

Semakin luasnya kekuasaan bangsa Barat di Indonesia sudah memengaruhi perubahan politik, ekonomi, dan sosial bangsa Indonesia. Tekanan pemerintah Hindia Belanda pada bangsa Indonesia memicu munculnya perasaan kebersamaan rakyat Indonesia sebagai bangsa yang terjajah. Hal inilah yang menjadi pendorong tekad bersama untuk menghimpun kebersamaan di dalam pergerakan kebangsaan Indonesia.

 

4)   Berkembangnya Berbagai Paham Baru

Paham-paham baru yang muncul seperti pan-Islamisme, sosialisme, liberalisme, dan komunisme menjadi salah satu pendorong pergerakan nasional di Indonesia. Paham-paham ini mengajarkan bagaimana cara langkah demi langkah untuk memperbaiki kondisi kehidupan bangsa Indonesia. Dan secara langsung ataupun tidak langsung, berbagai paham tersebut akhirnya mempengaruhi berbagai organisasi pergerakan nasional Indonesia pada masa itu.

 

5)   Perkembangan Organisasi Etnik, Kedaerahan, Keagamaan

Organisasi pergerakan nasional tentu saja tidak muncul begitu saja. Pada awalnya organisasi yang berdiri di Indonesia ialah berbagai organisasi etnik, kedaerahan, dan keagamaan saja. Namun berbagai organisasi tersebut sering melaksanakan pertemuan hingga akhirnya muncul sebuah ide untuk mengikatkan diri dalam organisasi yang sifatnya nasional. Lalu bagaimana prosesnya?

Organisasi etnik banyak didirikan oleh para pelajar perantau di kota-kota besar. Mereka membentuk sebuah perkumpulan berdasarkan latar belakang etnis yang sama. Contohnya seperti Serikat Pasundan dan Perkumpulan Kaum Betawi yang dipelopori oleh M. Husni Thamrin. Selain berkembang organisasi etnik, muncul pula beberapa organisasi kedaerahan seperti lainnya seperti Tri Koro Dharmo (1915), Jong Java (1918), dan Jong Sumatranen Bond (1917).

Lalu selanjutnya berbagai organisasi yang bernapaskan keagamaan pada awal abad XX menjadi sangat mempengaruhi perkembangan kebangsaan Indonesia. Beberapa organisasi yang bernapas keagamaan yang muncul pada masa awal abad XX seperti misalnya Jong Islamiten Bond, Muhammadiyah, Muda Kristen Jawi, PERSIS (Persatuan Umat Islam), Nahd latul Ulama, dan Al-Jamiatul Washiyah.

Selain itu, kaum wanita juga turut aktif berperan dalam berbagai organisasi baik itu organisasi sosial ataupun organisasi politik. Peran serta perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan, sudah ada sejak dahulu kala. Beberapa tokoh pejuang wanita pada zaman dulu diantaranya R.A. Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis.

R.A. Kartini merupakan putri Bupati Jepara Jawa Tengah yang memperjuangkan emansipasi (persamaan derajat) wanita antara laki-laki dan perempuan. Beliau mendirikan sebuah sekolah khusus untuk perempuan.

 

Tidak ada komentar untuk "5 Faktor yang Mendorong Lahirnya Nasionalisme Indonesia"